Menuju Jama'atul Muslimin (Resensi Buku)
Resensi tesis Dr. Salim Segaf Al Jufri yang membahas konsep jama'atul muslimin — mulai dari definisi, kedudukan, tujuan, hingga karakteristik dan unsur kesatuan umat Islam.
1. Tentang Penulis
Dr. Salim Segaf Al Jufri merupakan sahabat karib penulis saat kuliah di Madinah. Ketika memberi kata pengantar pada buku ini, beliau menuturkan: "Beliau adalah seorang ilmuwan dan aktifis dakwah tulen yang patut diteladani. Buku ini adalah tesis yang dipertahankan beliau untuk meraih gelar magister di Universitas Islam Madinah Al Munawarah. Tesis beliau mendapat nilai excellent. Namun beliau sudah wafat dalam usia yang relatif muda, 40 tahun, tak lama setelah merampungkan tesis ini."
2. Motivasi Terkait Tema Buku
Keruntuhan Turki Utsmani dan penghapusan sistem khilafah oleh Kemal Attaturk tahun 1924 merupakan puncak kemerosotan peran politik Islam, setelah hampir 14 abad kaum muslimin memegang peranan penting dalam peradaban dunia dan Islam, kemudian berangsur-angsur redup dan hilang terpecah-pecah.
Adapun motivasi yang mendorong penulis untuk memilih tema ini adalah:
- Hilangnya jama'atul muslimin (jamaah kaum muslimin) dari kehidupan umat Islam, dan kewajiban menegakkannya.
- Perpecahan dan kemerosotan yang menimpa umat Islam karena tidak adanya khilafah dan qiyadah (kepemimpinan) yang dapat menyatukan umat Islam dan menghimpun kekuatan Islam.
- Adanya upaya musuh-musuh Islam untuk menjauhkan umat Islam dari hukum-hukum Islam, padahal hukum Islam merupakan satu-satunya sistem yang dapat membahagiakan manusia dunia dan akhirat.
- Nash (teks) Al-Qur'an dan Hadits banyak yang membicarakan tentang perintah ditegakkannya jama'atul muslimin.
- Tersebarnya kebathilan di atas muka bumi akibat tidak adanya hukum Islam yang tegak di atas dasar pemerintahan Islam.
- Banyaknya firqah (kelompok) dari kalangan umat Islam merupakan isyarat akan mudahnya perpecahan, sehingga perlu adanya upaya serius untuk menyatukan dan mengembalikan khilafah di tangan umat Islam.
Firman Allah: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu, kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir." (QS. An-Nisa: 59)
Umar bin Khattab berkata: "Tidak ada Islam melainkan dengan jamaah, tidak ada jamaah kecuali dengan imamah (kepemimpinan), dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan." (HR. Ad-Darimi)
3. Pendahuluan
Perjalanan sejarah umat Islam akan mengalami 5 masa, yaitu:
- Periode Nubuwwah (masa Rasulullah).
- Periode Khilafah 'ala Minhajin Nubuwwah (Khulafaur Rasyidin selama kurang lebih 30 tahun).
- Periode Mulkan 'Adhon (raja yang menindas, meski pemerintahnya secara formal berlandaskan Islam).
- Periode Mulkan Jabariyyan (penguasa sekuler) — masa sekarang ini.
- Akan kembali lagi kelak ke Khilafah 'ala Minhajin Nubuwwah (pemerintahan atas dasar ajaran Nabi).
Definisi Jama'atul Muslimin
Secara bahasa, jamaah berarti sejumlah besar manusia, atau sekelompok manusia yang terhimpun untuk mencapai tujuan bersama. (Al Mu'jam Al Wasith, 1/136)
Secara istilah syariat, ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh Imam As-Syatibi, di antaranya:
- Jamaah adalah penganut Islam — apabila bersepakat dalam suatu perkara, maka pengikut agama lain harus mengikuti mereka.
- Jamaah adalah masyarakat umum pemeluk agama Islam.
- Jamaah adalah golongan yang sudah mampu berijtihad (mengambil hukum berdasarkan dalil Al-Qur'an dan Hadits).
- Jamaah adalah jama'atul muslimin jika mereka bersepakat mengangkat seorang amir (pemimpin).
- Jamaah adalah para sahabat Rasulullah SAW.
Kedudukan Jama'atul Muslimin Menurut Islam
Jama'atul muslimin merupakan ikatan yang kokoh dan tinggi kedudukannya dalam syariat Islam. Jika ikatan tersebut hancur, maka ikatan yang lain pun akan hancur pula, demikian pula hukum-hukumnya.
Umar bin Khattab berkata: "Wahai sekalian Arab, tidak ada Islam kecuali dengan jamaah, tidak ada jamaah kecuali dengan pemimpin, dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan." (Ad-Darimi, 1/79 dari Tamim Ad-Dari)
Al-Qur'an memerintahkan untuk menjaga kesatuan dalam jamaah. Firman Allah: "Dan berpegang teguhlah kamu semuanya dengan tali Allah, dan janganlah bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara…" (QS. Ali Imran: 103)
Sabda Nabi: "Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda: Barangsiapa mentaati amir, maka ia telah mentaatiku, dan barangsiapa membangkang kepada amir (pemimpin), maka ia telah membangkang kepadaku." (HR. Bukhari, 4/25)
Tujuan Umum Jama'atul Muslimin
- Agar seluruh manusia mengabdi kepada Allah.
- Agar manusia memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah yang munkar.
- Agar manusia berdakwah kepada manusia lainnya.
- Agar terhapus fitnah di muka bumi.
- Agar umat manusia bersaksi dengan persaksian yang benar kepada Allah.
Tujuan Khusus Jama'atul Muslimin
- Pembentukan pribadi muslim (bina al-fard al-muslim).
- Pembentukan rumah tangga muslim (bina al-usrah al-muslimah).
- Pembentukan masyarakat muslim (bina al-mujtama' al-muslim).
- Penyatuan umat Islam (tauhidul ummah al-islamiyah).
Adakah Jama'atul Muslimin Sekarang?
Setelah menelaah tentang definisi jama'atul muslimin, maka dapat dikatakan bahwa saat ini sudah tidak didapati jama'atul muslimin — yang masih ada hanya jamaah dari sebagian kaum muslimin secara umum.
Sabda Rasulullah kepada Hudzaifah bin Al-Yaman: "Hendaklah kamu berkomitmen dengan jama'atul muslimin dan pemimpin mereka." Aku bertanya: "Jika mereka tidak mempunyai jama'atul muslimin dan imam?" Beliau bersabda: "Tinggalkan kelompok-kelompok itu semuanya (yang mengarah kepada kesesatan), sekalipun kamu harus menggigit akar pohon." (HR. Bukhari)
4. Bagian Pertama — Struktur Organisasi Jama'atul Muslimin
A. Umat Islam
Secara bahasa, umat adalah jamaah dan kaum di kalangan manusia (Kamus Lisanul Arab, 14/293). Ar-Raghib Al-Asfahani mendefinisikan: "Umat adalah setiap jamaah yang disatukan oleh sesuatu hal — satu agama, zaman, atau tempat — baik faktor pemersatu tersebut dipaksakan atau berdasarkan pilihan." (Al-Mufradat Fi Gharibil Qur'an, 23)
a. Umat Islam Secara Geografis
- Titik tolak pembebasan tanah air umat Islam dimulai dari kawasan Islam (darul Islam) atau dikenal dengan wilayah yang ditegakkan keadilan hukum (darul 'adl). Firman Allah: "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia (Allah) sungguh akan menjanjikan mereka berkuasa di bumi…" (QS. An-Nur: 55)
- Setiap bumi yang dipijak oleh kaum muslimin pada dasarnya adalah bumi Allah, ia berkewajiban menegakkan hukum Allah di atasnya supaya menjadi darul Islam.
- Batas-batas politis bagi umat Islam sekarang tidak dapat dianggap sebagai pemerintahan Islam, sampai wilayah tersebut berdiri pemerintahan Islam secara ibadah maupun syariat.
b. Akar Sejarah Umat Islam
Umat Islam memiliki akar sejarah yang paling tua di muka bumi, dimulai sejak Nabi Adam, Nuh, Hud, Ibrahim, hingga ditutup oleh nabi penutup risalah Muhammad Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.
Sabda Rasulullah: "Aku dengan para nabi sebelumnya bagaikan seorang yang membangun sebuah rumah, ia memperindah dan membaguskan bangunannya, kecuali tersisa satu batu bata di salah satu sudut, maka mulailah orang-orang mengelilingi dan kagum atas bangunan tersebut seraya berkata: 'Mengapa tidak diletakkan batu bata ini?' Rasulullah bersabda: 'Akulah batu bata itu, akulah penutup para nabi.'" (HR. Muslim 4/1700; Tirmidzi 5/586; Fathul Bari 558; Ahmad 5/7)
c. Periode Umat Islam
Periode sebelum diutusnya Rasulullah — Pada masa ini kenabian dan kerasulan bersifat khusus bagi kaum tertentu, dengan diutusnya seorang nabi atau rasul kepada kaumnya di suatu negeri tertentu. Meski demikian, umat tersebut bersambung dan bersatu dalam sifat yang sama, yaitu akidah tentang Maha Esa-Nya Allah dalam sifat keislaman mereka.
هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا
"Dialah (Allah) yang telah menamaimu sekalian orang-orang muslim sejak dulu, dan (begitu pula) di dalam (Al-Qur'an) ini." (QS. Al-Hajj: 78)
Periode setelah diutusnya Rasulullah — Pada masa ini beralihlah paradigma kaum yang khusus menjadi periode kemanusiaan yang bersifat umum.
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
"Katakanlah: 'Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua…'" (QS. Al-A'raf: 158)
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَام
"Sesungguhnya agama yang diridhai Allah hanyalah Islam." (QS. Ali Imran: 19)
d. Karakteristik Umat Islam
- Aqidahnya bersih dari kemusyrikan.
- Ajarannya bersifat menyeluruh (komprehensif).
- Memiliki sistem (manhaj) Rabbani dari Allah dan sistem dari manusia (basyari).
- Sempurna.
- Pertengahan dan adil dalam setiap persoalan.
Sayyid Quthb menjelaskan maksud dari "pertengahan" ini:
- Pertengahan dalam cara pandang (tashawwur) dan keyakinan — tidak hanya materi, namun aspek ruhani juga.
- Pertengahan dalam pikiran dan perasaan.
- Pertengahan dalam organisasi (tanzim) dan konsolidasi (tansiq).
- Pertengahan dalam hal interaksi individu dan umum.
- Pertengahan dalam zaman.
- Pertengahan dalam letak geografis dunia secara umum.
e. Unsur Kesatuan Umat Islam
- Akidah — Terhimpun dalam kalimat "La Ilaha Illallah" (Tiada Tuhan Selain Allah).
- Ibadah — Firman Allah: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)
- Adab dan perilaku — Firman Allah: "Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik pada diri Rasulullah." (QS. Al-Ahzab: 21)
- Sejarah — Tidak terikat oleh batas teritorial suku dan bangsa.
- Bahasa — Al-Qur'an dan Hadits diturunkan dalam bahasa Arab sebagai pemersatu umat dalam komunikasi, baik kepada sesama manusia maupun saat beribadah kepada Allah.
- Kesatuan jalan — Firman Allah: "Jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat dan bukan jalan orang-orang yang sesat." (QS. Al-Fatihah: 6-7)
- Kesatuan undang-undang dan kesatuan pemimpin (Rasulullah).