Kembali ke Artikel
Tafsir 15 Februari 2021

Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 1 (Bagian 2)

Makna 'Tabaraka' dan kekuasaan mutlak Allah atas segala sesuatu. Telaah ayat pertama Surat Al-Mulk melalui pandangan para mufasir besar: Al-Qurthubi, Az-Zuhaily, Asy-Syaukani, An-Nasafi, dan Sayyid Quthb.

Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 1 (Bagian 2)

Nash Ayat

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Mulk [67]: 1)

Tinjauan Bahasa Arab

تَبَارَكَ

Kata tabaraka berasal dari pola تفاعل (ta-fa-'a-la) yang berfungsi sebagai shighat mubalaghah (tingkat superlatif). Tabaraka berasal dari kata al-barakah yang maknanya banyak dan luas. Al-Azhari berkata: "Tabaraka Ta'ala berarti Maha Agung dan Maha Tinggi." (Tafsir Al-Qurthubi, 7/223)

Sedangkan makna barakah adalah tumbuh dan berkembang. (Fathul Bayan, 14/229)

Menurut Az-Zujaj, kata barakah memiliki dua makna:

  • Makna pertama: bertambahnya kebaikan.
  • Makna kedua: Maha Tingginya Allah dalam Dzat, Sifat, dan perbuatan-Nya. (Tafsir Ar-Razi, 24/428)

Pendapat Para Ulama

Imam Al-Qurthubi

Imam Al-Qurthubi menyebutkan dalam tafsirnya:

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: بِيَدِهِ الْمُلْكُ يُعِزُّ مَنْ يَشَاءُ وَيُذِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيُحْيِي وَيُمِيتُ، وَيُغْنِي وَيُفْقِرُ، وَيُعْطِي وَيَمْنَعُ. وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ: لَهُ مُلْكُ النُّبُوَّةِ الَّتِي أَعَزَّ بِهَا مَنِ اتَّبَعَهُ وَذَلَّ بِهَا مَنْ خَالَفَه

Ibnu Abbas berkata: "Maha Suci Allah yang di tangan-Nya kekuasaan untuk memuliakan siapa saja yang dikehendaki dan merendahkan siapa saja yang dikehendaki-Nya, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, Yang Memberi Kekayaan, Yang Memberi Kemiskinan, Yang Memberi dan Yang Menahan." Ibnu Ishaq berkata: "Bagi Allah kekuasaan untuk mengutus kenabian, memuliakan pengikutnya, dan menghinakan siapa yang mengingkari tentangnya." (Tafsir Al-Qurthubi, 18/306)

Syekh Wahbah Az-Zuhaily

تَبارَكَ تعاظم وتعالى بالذات عن كل ما سواه، وكثير خيره وإنعامه، من البركة: وهي النماء والزيادة الحسية أو المعنوية. بِيَدِهِ الْمُلْكُ المالك المطلق وصاحب السلطان المتفرد، وبِيَدِهِ نؤمن باليد كما جاء على مراد الله، والظاهر من الآية هنا بيان قدرة الله وسلطانه ونفاذ تصرفه في ملكه

Tabaraka artinya keagungan Allah dalam Dzat-Nya atas makhluk lain, banyaknya kebaikan dan nikmat dari Allah. Kata tabaraka berasal dari kata barakah yang artinya tumbuh dan berkembang, baik secara lahir maupun batin. Di tangan Allah-lah segala kekuasaan mutlak, Dia-lah pemilik kekuasaan tunggal. Dengan tangan-Nya-lah kami beriman kepada Allah seperti yang Allah maknakan dalam kata tangan. Secara lahiriyah, ayat ini menjelaskan tentang ketetapan Allah dan berlakunya kekuasaan-Nya.

Imam Asy-Syaukani

تَبَارَكَ: تَقَدَّسَ، وَصِيغَةُ التَّفَاعُلِ لِلْمُبَالَغَةِ، وَالْيَدُ مَجَازٌ عَنِ الْقُدْرَةِ وَالِاسْتِيلَاءِ، وَالْمُلْكُ: هُوَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، فَهُوَ يُعِزُّ مَنْ يَشَاءُ وَيُذِلُّ مَنْ يَشَاءُ، وَيَرْفَعُ مَنْ يَشَاءُ وَيَضَعُ مَنْ يَشَاءُ

Tabaraka artinya Maha Suci. Pola kalimat ta-fa-'a-la dalam bahasa Indonesia berfungsi sebagai shighat mubalaghah (superlatif). Makna "tangan" di sini adalah bentuk majaz atas qudrah-nya Allah. Al-Mulk adalah kekuasaan Allah yang meliputi langit dan bumi, dunia dan akhirat. Dia memuliakan siapa yang dikehendaki-Nya dan menghinakan siapa yang dikehendaki-Nya, mengangkat dan merendahkan siapa saja yang Dia kehendaki. (Fathul Qadir, 5/308)

An-Nasafi

An-Nasafi dalam tafsirnya berpendapat: Tabaraka maknanya adalah Allah Maha Suci dan Maha Agung dari segala sifat-sifat makhluk, yang di tangan-Nya kekuasaan yang meliputi semua makhluk-Nya. Memberi kekuasaan kepada siapa saja yang dikehendaki dan mencabutnya dari siapa saja yang Dia kehendaki. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu — dari memberikan nikmat hingga memberikan ancaman. Dia Maha Kuasa atas kesempurnaan. (Tafsir Al-Alusi, 3/510)

Sayyid Quthb

Ayat pertama dalam surat ini merupakan terapi baru dalam meluruskan pemikiran antara wujud kebendaan dengan Sang Penciptanya — pemikiran yang luas, menyeluruh, meretas batas bumi yang sempit dan dunia yang terbatas, menuju alam langit dan kehidupan akhirat. Juga kepada makhluk ciptaan lain selain manusia di dunia seperti jin, burung-burung, dan lainnya, dan alam akhirat seperti neraka Jahannam dan seisinya — kepada alam ghaib selain alam kebendaan yang selalu mendekam dalam hati manusia. (Fi Dzilalil Qur'an, 6/3639)